Di tengah pesatnya perkembangan industri fashion hijab di Tanah Air, nama Yuliati dan Yuliasti mungkin belum setenar brand-brand nasional yang dikelola korporasi besar. Namun, di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, keduanya adalah figur inspiratif yang telah membuktikan bahwa ketekunan, kejujuran, dan pemahaman mendalam terhadap pasar lokal adalah kunci utama meraih kesuksesan. Usaha jilbab yang mereka bangun bukan sekadar tentang menjual kain penutup kepala, melainkan tentang membangun kepercayaan dan memberdayakan masyarakat sekitar.
Perjalanan Yuliati dan Yuliasti bermula bukan dari sebuah kantor megah, melainkan dari sebuah ru tamu sederhana di kediaman keluarga mereka di kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru. Sebagai perempuan kelahiran Banjar, keduanya menyadari bahwa iklim tropis Kalimantan yang panas dan lembab memerlukan jenis bahan jilbab yang berbeda dibandingkan daerah lain. Banyak perempuan di daerah ini mengeluhkan jilbab yang cepat panas, tidak menyerap keringat, dan membuat gerah saat beraktivitas seharian.
Melihat peluang ini, Yuliati, yang kakak dari Yuliasti, mengajak adiknya untuk mulai bereksperimen dengan berbagai jenis bahan. Modal awal mereka hanyalah keberanian untuk mencoba dan sedikit tabungan hasil bekerja serabutan. "Dulu kami beli kain meteran di pasar Gambut, lalu jahit sendiri pola-pola sederhana yang kami rasa nyaman dipakai kami sendiri," ungkap Yuliati mengenang masa-masa sulit tersebut. Mereka sadar, jika produk tersebut nyaman bagi mereka, kemungkinan besar juga akan nyaman bagi tetangga dan kerabat mereka.
Tahun-tahun awal adalah masa yang paling berat. Persaingan usaha konveksi jilban di Banjarbaru dan Banjarmasin sudah cukup padat. Banyak penjaja keliling dan toko besar yang menawarkan harga miring. Yuliati dan Yuliasti harus berpikir keras tentang cara membedakan diri. Mereka memutuskan untuk tidak berkompetisi dalam hal harga murah yang merugikan kualitas, melainkan berkompetisi dalam kualitas bahan dan kerapian jahitan.
Strategi pemasaran mereka saat itu sangat tradisional namun efektif: *word of mouth* atau dari mulut ke mulut. Yuliasti, yang memiliki jiwa sosial tinggi, aktif membawa produk jilbab mereka ke pengajian-pengajian rutin di lingkungan RT dan masjid sekitar. Dia tidak hanya menjual, tapi juga bersedia menerima pesanan kustom sesuai keinginan para jemaah. Pendekatan personal ini lambat laun membuahkan hasil. Kepercayaan pelanggan tumbuh, dan kualitas jahitan yang rapi menyebar luas di komunitas lokal.
Seiring berkembangnya zaman dan masuknya era digital di Kalimantan Selatan, Yuliati dan Yuliasti menyadari bahwa mereka harus beradaptasi. Anak-anak muda Banjarbaru mulai beralih ke belanja online. Meskipun keduanya awalnya gaptek (gagap teknologi), semangat mereka untuk maju membuat mereka belajar dari nol. Dibimbing oleh keponakan mereka, mereka mulai membuka akun media sosial dan marketplace lokal.
Transisi ini tidak mudah. Mereka harus belajar memotret produk yang menarik, menulis deskripsi yang persuasif, hingga mengatur pengiriman barang ke seluruh penjuru Kalsel bahkan luar pulau. Namun, fondasi bisnis offline yang kuat sangat membantu. Reputasi baik yang sudah mereka bangun secara *offline* kemudian dengan mudah dikonversi ke ranah online. Ulasan positif bermunculan di marketplace, memvalidasi kualitas produk Yuliati dan Yuliasti di hadapan audiens yang lebih luas.
Salah satu keunikan dari usaha jilbab Yuliati dan Yuliasti adalah sentuhan lokal yang mereka ciptakan. Mereka tidak asal mengikuti tren jilab Korea atau Timur Tengah yang silih berganti. Sebaliknya, mereka berinovasi dengan motif-motif khas Kalimantan, seperti motif batik Sasirangan, namun disesuaikan untuk bahan jilbab. Kolaborasi antara kenyamanan bahan premium dan kekayaan budaya lokal ini menjadi pembeda utama brand mereka.
Produk jilbab mereka seringkali diberi nama-nama yang terinspirasi dari tempat di Banjarbaru, seperti seri "Sepaku", "Taman Van Der Pijl", atau "Lok Baintan". Ini tidak hanya sebagai strategi marketing, tetapi juga sebagai bentuk cinta mereka terhadap kota. Pendekatan ini membuat masyarakat Banjarbaru merasa memiliki produk tersebut, membangun rasa kebanggaan saat menggunakan jilbab buatan kakak beradik ini.
Kesuksesan yang diraih Yuliati dan Yuliasti tidak dinikmati sendirian. Saat ini, rumah produksi mereka telah memberdayakan puluhan ibu-ibu rumah tangga di sekitar lingkungan mereka. Sistem kerja sama yang mereka terapkan sangat fleksibel, memungkinkan para penjahit rumahan untuk bekerja sambil mengurus keluarga. Setiap potongan kain yang berhasil dijahit dengan sempurna memberikan penghasilan tambahan bagi ekonomi keluarga kecil di Banjarbaru.
Kegiatan ini memberikan dampak ekonomi yang nyata. Di masa-masa sulit seperti pandemi lalu, ketika banyak orang kehilangan pekerjaan, usaha jilbab ini mampu bertahan dan bahkan membuka lapangan kerja baru. Yuliati dan Yuliasti percaya bahwa kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa besar harta yang dikumpulkan, melainkan seberapa banyak orang yang bisa tertolong melalui usaha yang dijalankan.
Kini, nama Yuliati dan Yuliasti bukan hanya dikenal di Banjarbaru. Pesanan mulai berdatangan dari berbagai kota di Indonesia, bahkan ada yang dikirim oleh sanak saudara perantauan hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Meskipun eksistensi mereka semarak, keduanya tetap memegang teguh prinsip egaliter dan sederhana.
Mereka berencana untuk melebarkan sayap dengan membuka galeri resmi di salah satu pusat perbelanjaan di Banjarbaru, namun tetap mempertahankan sistem produksi *home industry* yang menjaga kualitas dan kehangatan relasi dengan para penjahit lokal. "Meski kami sudah bisa kemana-mana, Insya Allah kami tidak akan pindah dari sini. Banjarbaru adalah tempat kami lahir, tempat kami tumbuh, dan inilah tempat kami ingin tetap bermakmur," tegas Yuliati mengakhiri pembicaraan.
Kisah sukses Yuliati dan Yuliasti adalah bukti nyata bahwa peluang usaha selalu ada di sekitar kita, asalkan kita peka terhadap kebutuhan lingkungan, jujur dalam berbisnis, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Dari tumpukan kain meteran hingga menjadi brand kebanggaan Kalimantan Selatan, perjalanan mereka layak dijadikan teladan bagi generasi muda daerah yang ingin berwirausaha.